Selasa, 03 Januari 2017

My Thesis "pattern of religious education for orphans"

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Agama merupakan faktor utama dalam kehidupan manusia, karena agama mampu memberikan makna, arti dan tujuan hidup kepada manusia itu sendiri. Karena agama sangat penting untuk kehidupan manusia, maka penanaman nilai-nilai agama harus ditanamkan sedini mungkin, dalam hubungannya dengan pendidikan agama pada anak, Islam menempatkan peran keluarga yaitu orang tua sebagai lembaga pendidikan dasar.
Anak yang mempunyai orang tua lengkap tentu akan mendapatkan pengarahan, pelatihan, pembiasaan dan kelakuan-kelakuan keagamaan, lalu bagaimana dengan anak yang ditinggal oleh ayahnya, sejak kecil ia sudah menjadi yatim dan hidup dengan keluarga yang tidak mampu ataupun sebab lainnya. Menjadi anak yatim tentunya bukan sesuatu yang dikehendaki, hal ini merupakan takdir yang sudah ditentukan Allah untuk hamba-hambanya, anak yang ditinggal oleh salah satu orang tuanya tentu  kurang mendapat perhatian, kasih sayang, pelayanan, pendidikan dan sentuhan-sentuhan keagamaan tidak ia rasakan sejak kecil.
Secara psikologis, orang dewasa sekalipun apabila ditinggal ayah atau ibu kandungnya pastilah merasa terganggu jiwanya, dia akan sedih karena kehilangan salah seorang yang sangat dekat dalam hidupnya. Orang yang selama ini menyayanginya, memperhatikannya, menghibur dan menasehatinya, itu orang yang dewasa, coba kita bayangkan kalau itu menimpa anak-anak yang masih kecil, anak yang belum baligh, belum banyak mengerti tentang hidup dan kehidupan, bahkan belum mengerti baik dan buruk suatu perbuatan, tapi ditinggal pergi oleh bapaknya untuk selama-lamanya.
Menyantuni anak yatim serta memperhatikan anak yatim adalah suatu hal yang bijaksana yang dapat dilakukan oleh orang-orang disekelilingnya. Ajaran Islam menempatkan anak yatim dalam posisi yang sangat tinggi, Islam mengajarkan untuk menyayangi mereka dan  melarang melakukan tindakan-tindakan yang dapat menyinggung perasaan mereka. Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an dan hadis yang menerangkan tentang hal ini, dalam surah al-Mâun misalnya  Allah Swt berfirman:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3
Disebutkan juga dalam hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal yang berbunyi:
حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ أَبِي عِمْرَانَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا شَكَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسْوَةَ قَلْبِهِ فَقَالَ امْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ وَأَطْعِمْ الْمِسْكِينَ[1]
Adapun anjuran mengusap kepala anak yatim dalam hadis ini merupakan lambang kasih sayang dan perhatian umat muslim, baik dalam bentuk material, pendidikan serta dalam pengasuh untuk mewujudkan kesejahteraan sosial bagi anak yatim.
Adapun untuk memelihara dan  untuk meningkatkan kesejahteraan sosial bagi anak yatim maka diperlukan suatu wadah untuk menampung anak yatim yang disebut dengan panti asuhan. Panti asuhan adalah suatu wadah untuk menampung anak yatim yang merupakan tempat mereka berlindung, tempat mereka mendapatkan pendidikan agama Islam dan melatih mereka dalam kemandirian.
Di Indonesia, pemberian pelayanan sosial bagi anak mayoritas dilakukan oleh panti atau yayasan. Panti atau yayasan secara etimologi berarti suatu nama dari sebuah organisasi. Sedangkan ditinjau dari realita yang berlaku di Indonesia, panti yatim adalah sebuah organisasi yang mewadahi dan menangani anak-anak yatim.[2] Panti asuhan merupakan tempat untuk anak-anak yatim mendapatkan pendidikan khususnya pendidikan agama, karena dengan pendidikan agama maka ia dapat menempatkan dirinya dan memiliki sifat-sifat keagamaan yang akan menjadi bekal untuk masa depannya kelak.
Menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2013 terdapat 83 panti asuhan, dengan jumlah anak asuh laki-laki 2.848 dan jumlah anak asuh perempuan 1.048 dan terdapat 23 panti asuhan di kota Banjarmasin pada tahun 2014.
Dari pemaparan diatas penulis tertarik untuk melakukan lebih lanjut tentang permasalahan  di panti asuhan kota Banjarmasin yang penulis teliti yaitu terdapat tiga panti asuhan di kota Banjarmasin yaitu panti asuhan al-ikhlas yang terletak di gang Karunia Rt 27, rw 09 no. 28 Jalan Ahmad Yani Km 5,5, kecamatan Banjarmasin Timur. Panti asuhan mizan amanah yaitu asrama yatim  yang terletak di Jalan Bumi Mas Raya No. 2 Komplek Buncit Indah Banjarmasin dan panti asuhan bunda kurbanur yang terletak di Jalan lambung mangkurat gang Mufakat, Rt 33, Kelurahan Pemurus Baru, Km 5.
Adapun alasan penulis memilih tiga panti asuhan di atas karena panti asuhan tersebut pasti memiliki ciri-ciri masing-masing, yaitu panti asuhan al-ikhlas adalah panti asuhan yang mempunyai anak asuh perempuan dan anak asuh laki-laki yang berjumlah 57 orang. Anak dipanti tersebut dilatih dengan hidup disiplin yang terbukti dengan adanya jadwal kegiatan kebersihan dan gotong royong. Mereka mendapatkan pendidikan kegamaan dengan dibiasakan sholat berjamaah dan selesai shalat berjamaah mereka membaca surat yassin dan setiap malam selasa dan malam kamis anak asuh ini dilatih dengan latihan maulid habsy dan mereka juga membaca yasin setiap malam jumat dan membaca burdah secara bersama-sama.
Panti asuhan mizan amanah yaitu panti asuhan yang memiliki 14 anak asuh, di panti Asuhan Mizan Amanah yaitu anak di didik dengan nilai-nilai pendidikan Agama dan mendapatkan pendidikan yang layak, anak diajarkan agar tertib, disiplin dan mandiri, ini terbukti dengan adanya jadwal kegiatan piket, jadwal menghafal al-Qur’an, dibiasakan shalat berjamaah, shalat tahajud, bangun pagi.  Dalam melaksanakan shalat tahajud mereka bangun jam 04.00 pagi yang dibimbing oleh bapak pengasuh, sedangkan untuk mengaji mereka dapatkan di tempat les dan untuk kegiatan menghafal al-Qur’an mereka lakukan pada waktu pagi. Anak-anak asrama yatim Mizan Amanah ini pun di didik untuk berlaku sopan, menyapa dengan ramah dan memberi salam.
Panti Asuhan bunda kurbanur adalah panti asuhan yang baru diresmikan tahun 2014 dan hanya memiliki anak asuh 5 orang, di dalam panti asuhan bunda kurbanur mereka di dididik dengan nuansa agama islam, mereka di ajarkan menghafal surah-surah pendek, pembelajaran fiqh dan anak asuh juga di ajarkan keterampilan-keterampilan seperti kaligrafi, madihin dan maulid habsy.
Dari pemaparan latar belakang masalah tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang Pola Pendidikan Agama Bagi Anak Yatim (Studi Panti Asuhan Kota Banjarmasin)
B.   Fokus Masalah
Dari pemaparan latar belakang di atas, yang menjadi permasalahan pokok di atas adalah pola pendidikan agama bagi anak yatim (Studi Panti Asuhan di Kota Banjarmasin). Fokus penelitian ini dijabarkan dalam sub masalah yaitu:
1.      Bagaimana pola pendidikan Agama bagi anak yatim yang diterapkan di panti asuhan ?
2.      Bagaimana usaha-usaha yang dilakukan oleh pengasuh dalam mendidik keagamaan anak yatim di panti asuhan ?
3.      Bagaimana hasil yang diperoleh anak yatim selama mendapatkan pendidikan agama di panti asuhan ?
C.   Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari fokus penelitian sebelumnya, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1.      Untuk mengatahui pola pendidikan agama bagi anak yatim di panti asuhan.
2.      Untuk mengetahui usaha-usaha yang dilakukan oleh pengasuh dalam mendidik keagamaan anak yatim dipanti asuhan.
3.      Untuk mengetahui hasil yang di peroleh anak yatim selama mendapatkan pendidikan agama dip anti asuhan.
D.   Kegunaan Penelitian
1.    Secara teoritis
a.    Kegunaan penelitian ini adalah sebagai sumbangan pemikiran dan menambah wawasan ilmu pengetahuan. Terutama terhadap pendidikan agama bagi anak yatim serta bagaimana pola pendidikan agamanya di panti asuhan.
b.    Sebagai bahan informasi khususnya para pemerhati pendidikan, untuk lebih meningkatkan pendidikan agama bagi anak yatim khususnya di Banjarmasin.
c.     Memperluas wawasan penulis yang berkaitan dengan penelitian ini dan memberikan saran yang positif terhadap pelaksanaan pendidikan agama bagi anak yatim dipanti asuhan kota Banjarmasin.
2.    Secara Praktis
a.       Sebagai sarana untuk mendidik agama bagi anak-anak yatim di panti asuhan kota Banjarmasin.
b.      Sebagai tolak ukur keberhasilan pendidikan agama bagi anak-anak yatim di panti asuhan kota Banjarmasin.
c.       Sebagai gambaran bagi para pengasuh panti asuhan khususnya dalam hal pendidikan agama bagi anak-anak yatim.
d.      Bagi pemerintah, Sebagai bahan pertimbangan dan masukan untuk meningkatkan mutu pendidikan, khususnya kepada anak yatim.
E.   Definisi Operasional
Judul penelitian ini didukung oleh tiga istilah yang perlu dibatasi sebagai pegangan dalam penelitian lebih lanjut. Ketiga istilah tersebut ialah "Pendidikan”, Agama”, “Anak  yatim”,“Panti Asuhan” Selanjutnya ketiga istilah ini dapat dijelaskan masing-masing sebagai berikut:
1.    Pola Pendidikan Agama
Pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran Agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup (way of life).[3] Pola merupakan suatu cara yang dilakukan oleh pendidik dalam menyampaikan nilai-nilai atau materi pendidikan itu sendiri sebagai salah satu komponen penting dalam proses pendidikan. Pola Pendidikan Agama yang dimaksud disini adalah model atau  bentuk Pendidikan Agama Islam. Menurut Muhammad Qutb yaitu  memberikan gambaran tentang teknik dalam pola pendidikan anak yaitu “dengan melakukan pendidikan melalui keteladanan, teguran, hukuman, cerita-cerita, pembiasaan dan pendidikan melalui pengalaman-pengalaman kongkrit”.[4]
2.    Anak Yatim
Secara umum kata yatim adalah seseorang yang belum dewasa dan telah ditinggal mati oleh ayahnya.[5] Ia dinamakan demikian karena ia bagaikan sendirian, tak ada yang mengurusnya atau mengulurkan tangan (bantuan) kepadanya. Anak yatim adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Dr. Abdul Madjid Hasyim al-Husaini : “Anak yatim itu adalah anak yang ditinggal mati ayahnya dan dia belum sampai batas baligh (dewasa)”.[6]
3.    Panti Asuhan
Dalam Peraturan Perundang-undangan Bidang Tugas Bina Rehabilitasi Sosial menyebutkan tentang usaha kesejahteraan disebutan :
a. Anak yang mempunyai masalah adalah anak yang antara lain tidak mempunyai orang tua dan terlantar, anak tidak mampu, anak yang mengalami masalah dan kelakuan serta anak cacat.
b. Asuhan adalah berbagai upaya yang diberikan kepada anak yang tidak mempunyai orangtua dan terlantar, dan anak yang mengalami masalah kelakuan, agar bersifat sementara sebagai pengganti orang tua dan keluarga agar dapat tumbuh dan berkembang dengan wajar, baik secara rohani, jasmani dan sosial.
c. Panti asuhan adalah panti sosial yaitu lembaga kesatuan kerja yang merupakan sarana dan prasarana yang memberikan pelayanan sosial berdasarkan profesi pekerjaan sosial.[7]
Panti asuhan adalah tempat untuk memelihara dan mendidik anak-anak yatim, piatu, yatim piatu dan anak-anak yang kurang mampu.  Panti Asuhan adalah tempat berkumpulnya anak-anak yatim, yatim piatu dan anak-anak yang kurang mampu untuk di didik khususnya pendidikan agama agar menjadi anak yang berakhlak dan agar menjadi bekal untuk masa depannya kelak. Jadi yang dimaksud panti asuhan menurut penulis adalah tempat untuk merawat, mendidik, memelihara anak-anak yatim, yatim piatu dan anak yang kurang mampu yang di didik dengan sentuhan-sentuhan agama Islam yang terdapat di kota Banjarmasin. Adapun panti asuhan yang penulis maksud yaitu panti asuhan al-Ikhlas, panti asuhan mizan amanah dan panti asuhan bunda kurbanur.
Adapun yang dimaksud dengan judul penelitian ini adalah pola pendidikan agama bagi anak yatim (studi panti asuhan kota Banjarmasin) yang penulis teliti hanyalah anak-anak yatim yang berada di lingkungan panti asuhan dan bagaimana pola pendidikan agamanya  bagi anak yatim di panti asuhan. Pola pendidikan agama yang dimaksud adalah keteladanan, teguran, hukuman, cerita-cerita, pembiasaan dan pendidikan melalui pengalaman-pengalaman kongkrit.
F.    Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu berfungsi untuk mengetahui letak perbedaan dengan penelitian yang judulnya memiliki kemiripan yaitu:  Ihda Rifqya (2016) dengan judul tesisnya  Hubungan Bimbingan Keagamaan dan Lingkungan Tempat Tinggal dengan Prestasi Belajar PAI (Studi Pada Anak Asuh Di Panti Asuhan Kota Banjarmasin). Diketahui bahwa tempat tinggal juga merupakan salah satu hal yang mempengaruhi prestasi belajar agama Islam bagi anak panti asuhan. Memang ada banyak perbedaan antara anak yang bertempat tinggal bersama orang tua dengan anak yang tinggal jauh dari keluarga terutama dalam kegiatan belajar dan aktivitas yang mendukung terhadap kelancaran belajarnya. Oleh karena itu, prestasi belajar bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Karena penelitian ini berbentuk kuantitatif maka hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut 1. Tidak ada hubungan secara signifikan antara bimbingan keagamaan dengan prestasi belajar anak asuh dengan nilai signifikansi 0,062 > 0,05. 2.Tidak ada hubungan secara signifikansi antara lingkungan tempat tinggal dengan prestasi belajar anak asuh, dengan nilai signifikansi 0,0963 > 0,05. 3.Tidak ada hubungan secara signifikansi antara bimbingan keagamaan dan lingkungan tempat tinggal dengan prestasi belajar pendidikan agama Islam anak asuh di sekolah kota Banjarmasin, dengan R square 0,086 yang menyatakan bahwa prestasi belajar dipengaruhi oleh bimbingan keagamaan dan lingkungan tempat tinggal hanya sebesar 8,6%. Adapun penelitian ini memiliki persamaan dengan penelitian penulis yaitu sama-sama mengambil tempat yaitu panti asuhan. Sedangakan perbedaannya dari penulis adalah penulis meneliti pola pendidikan agama bagi anak yatim tidak semua anak asuh untuk penulis teliti, dari segi jenis penelitiannya berbeda penelitian yang diteliti oleh Ihda Rifqya bersifat kuantitatif , sedangkan penulis menggunakan penelitian kualitatif.
Penelitian oleh M.Humaidi (2008) dalam penelitian tesisnya Pengasuhan Anak di Panti Asuhan Harapan Kita Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala. Fokus penelitian ini yaitu pengasuhan dipanti asuhan berpola demokratis. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengasuhan anak di panti asuhan Harapan Kita adalah faktor pendukung yaitu: adanya sarana dan prasarana, adanya dana, adanya kesadaran diri pengasuh untuk melaksanakan tugasnya, ketaatan anak asuh, letak panti asuhan yang strategis dan faktor penghambat yaitu: terbatasnya waktu, kapasitas anak asuh, terbatasnya tenaga pengasuh, sedikitnya honor yang diterima pengasuh, dan perhatian pengasuh yang tidak sesuai dengan kehendak pengasuh. Letak persamaan dengan penelitian penulis adalah sama-sama meneliti dipanti asuhan, tetapi penelitian ini tidak membahas pola pendidikan agama yang khusus untuk anak-anak yatim saja.
Penelitian yang dilakukan oleh Binti Qoni’ah (2007) judul tesisnya yaitu Pendidikan anak dalam Persepektif Hadis, diketahui bahwa hakekat pendidikan anak menurut perspektif hadis Nabi SAW. merupakan kewajiban yang dibebankan oleh Allah SWT. kepada manusia orang tua. Kewajiban ini memberikan konsekwensi bagi orang tua untuk melakukan fungsi pembinaan terhadap anak-anaknya agar mereka menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur dan berupaya memelihara dari terjerumus ke dalam kesia-siaan, sekaliguas mengantarkan mereka menjadi manusia yang paripurna (insan kamil). Oleh karena itu, untuk keperluan pendidikan anak diperlukan metode yang bijaksana dan proporsional agar proses pendidikan mencapai keberhasilan. Adapun persamaan  dari penelitian ini adalah sama-sama membahas tentang anak. Tetapi penelitian ini hanya membahas anak secara umum, berbeda dengan penelitian penulis yang membahas tentang penelitian pola pendidikan agama bagi anak yatim.
Penelitian yang dilakukan oleh Evi Wahyuni (2012) dalam tesisnya yang berjudul Strategi Bimbingan Keagamaan Terhadap Anak Di Lingkungan Keluarga  Desa Belanti Siam Pangkoh VIII Kecamatan Pandih Batu Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah. Fokus penelitian yang dibahas dalam tesis ini adalah bagaimana strategi bimbingan keagamaan terhadap anak di lingkungan keluarga yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya dari 15 keluarga muslim di desa Belanti Siam Pangkoh VIII kecamatan Pandih Batu kabupaten Pulang Pisau provinsi Kalimantan Tengah, apakah strategi yang dilakukan oleh penelitian ini sesuai dengan Islam. Letak persamaan dari penelitian ini adalah sama-sama meneliti tentang anak, tetapi penelitian ini tidak membahas secara khusus tentang anak yatim dan tidak membahas pola pendidikan agamanya.
G.  Sistematika Penulisan
Bab I: Pendahuluan dikemukakan latar belakang timbulnya permasalahan pola pendidikan agama bagi anak yatim, fokus penelitian, masalah penelitian, tujuan dan signifikansi penelitian, definisi istilah, penelitian terdahulu, sistematika penulisan.
Bab II: Kerangka teori pendidikan anak dalam Islam. Di dalamnya dikaji, Prinsip dasar dalam pendidikan anak dan pola pendidikan agama serta pengertian anak yatim dalam Islam.
Bab III: Metode penelitian yang berisikan tentang jenis penelitian, tempat, dan waktu penelitian, data, sumber data, dan teknik pengumpulan data, teknik pengolahan, dan analisis data.
Bab IV: Laporan hasil penelitian, berisikan gambaran umum objek dan subjek penelitian, penyajian data dan analisis data.
Bab V: Penutup berisikan kesimpulan dan saran-saran.







[1]Ahmad ibn Hanbal, Musnad al-Imâm Ahmad ibn Hanbal, jilid 2 (Beirut: Dâr al-Fikr, 1994), h. 387.
[2]LPSI. Anak Yatim & Kajian Fikih Realitas Sosial. (Jatim: Pustaka Sidogiri), h. 31.
[3]Zakiah darajat, dkk., Ilmu Pendidikan Islam, Cet II, (Bumi Aksara, 1992), h.86
[4]Salman Harun, Sistem Pendidika Islam, (Bandung: Al Ma‟arif:1993), Cet. 3, h. 324
[5]Dahlan Addul Azizi, Ensiklopedi Hukum Islam, (PT Icktiar Baru Van Hoeve, Jakarta,1997). h.863.
[6] Abdul Madjid al-Husaini, Syarah Riyadus Sholihin, (Kairo : Darul Kutbil, 1970), h.453
[7]Himpunan Peraturan Perundang-undangan Bidang Tugas Bina Rehabilitasi Sosial, (Jakarta : Dirjen Bina Rehabilitasi Sosial, 1993), h. 106.

Model Diskusi Kelas


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
      Hidup bersama antara manusia berlangsung di dalam berbagai bentuk perhubungan dan di dalam berbagai jenis situasi. Tanpa adanya proses interaksi di dalam hidup manusia, tidak mungkin mereka dapat hidup bersama. Proses interaksi itu mungkin terjadi, karena kenyataannya bahwa manusia pada hakikatnya memiliki sifat sosial yang besar. Setiap proses interaksi terjadi dalam ikatan situasi, tidak di tempat atau ruang yang hampa.
    Di dalam pendidikan, komunikasi seperti yang di atas disebut interaktif edukatif, ialah interaksi yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan. Interaksi tersebut juga disebut interaksi belajar mengajar, karena di dalam interaksi itu terjadi proses belajar mengajar dan proses mengajar. Dalam interaksi semacam itu terjadi siswa belajar dan guru mengajar, keduanya mencapai tujuan pendidikan. Adapun tugas siswa yaitu belajar mengembangkan potensi seoptimal mungkin, sehingga tujuan tercapai sesuai dengan apa yang dicita-citakan di dalam dirinya.
    Dalam hal ini siswa membutuhkan situasi kondisi yang memungkinkan serta menunjang berkembangnya potensi tersebut. Untuk kepentingan tersebut peranan guru sangat diperlukan. Tugas seorang guru ialah mengajar, dimana guru harus membimbing anak belajar, dengan menyediakan situasi kondisi yang tepat, agar potensi anak dapat berkembang semaksimal mungkin.
    Realitas di lapangan bahwa guru sebagai pengajar anak didik belum mampu mewujudkan interakasi belajar yang kondusif. Sehingga tujuan anak didik untuk mengembangkan potensi dalam dirinya seoptimal mungkin tidak tercapai. Di antara hambatan yang sering terjadi adalah model pembelajaran yang konservatif dengan menggunakan metode ceramah yang hanya mengutamakan komunikasi satu arah. Terkadang juga guru tidak mampu memecahkan problematika mata pelajaran yang diampunya. Oleh karenanya dibutuhkan model-model pembelajaran alternatif yang mampu mendukung optimalisasi potensi dalam diri anak didik, di antaranya adalah model pembelajaran diskusi.
B.    Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan ada lima pertanyaan yang mendasarinya yaitu:
1.    Apakah yang dimaksud dengan model diskusi kelas?
2.    Apa tujuan pembelajaran diskusi kelas?
3.    Bagaimana implementasi model diskusi kelas?
4.    Apakah kelemahan dan kelebihan model diskusi kelas?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui pengertian diskusi kelas?
2.    Untuk mengetahui tujuan pembelajaran diskusi kelas?
3.    Untuk mengetahui implementasi model diskusi kelas?
4.    Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan model diskusi kelas?
D.    Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam menyelesaikan makalah ini adalah metode kajian pustaka dan pencarian melalui internet.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Model Diskusi Kelas
    Diskusi adalah suatu proses pertemuan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau sasaran yang sudah tertentu melalui cara tukar menukar informasi atau pemecahan masaalah. Diskusi juga diartikan dengan percakapan ilmiah yang responsif berisikan pertukaran pendapat yang dijalin dengan pertannyaan–pertannyaan problematis, pemunculan ide-ide dan pengujian ide-ide ataupun pendapat, dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam kelompok itu yang diarahkan untuk memperoleh pemecahan masalahnya.
    Diskusi adalah model pembelajaran yang mengharapkan peserta didik untuk memecahkan suatu permasalahan. Tujuan utama pada diskusi ini adalah untuk memecahkan suatu permasaalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan peserta didik, serta untuk membuat suatu keputusan. Karena itu diskusi bukanlah debat yang beradu argumentasi. Diskusi lebih bersifat bertukar pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama. Dengan demikian diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran di mana guru memberikan kesempatan kepada para peserta didik (kelompok-kelompok peserta didik) untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau atau menyusun alternatif pemecahan suatu masaalah.
    Sedangkan diskusi kelas merupakan situasi dimana guru dan para siswa, atau antara siswa dengan siswa yang lain berbincang satu sama lain dan berbagai gagasan dan pendapat mereka. Di dalam diskusi ini proses interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, dapat terjadi juga semuanya aktif tidak ada yang pasif sebagai pendengar saja. Diskusi kelas (classroom discussion) diskusi yang diselenggarakan dalam kelas dan melibatkan guru serta para siswa yang menjadi peserta diskusi. Dalam diskusi kelas pada umumnya gurulah yang menentukan tujuan diskusi. Siswa dan guru bersama-sama menyimpulkan atau merumuskan informasi di akhir diskusi. Dengan melaksanakan diskusi maka suasana kelas akan menjadi semakin hidup, setiap anak diharapkan menjadi berpartisipasi secara aktif, mereka diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat, menyangkal pendapat, mengajukan usul dan mengajukan saran-saran dalam rangka pemecahan masalah dari berbagai segi.
Diskusi digunakan oleh seorang guru, apabila guru hendak:
1.    Memanfaatkan berbagai kemampuan yang ada (dimiliki) oleh siswa.
2.    Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menyalurkan  kemampuannya masing-masing.
3.    Memperoleh umpan balik dari para siswa tentang apakah tujuan yang telah dirumuskan telah tercapai.
4.    Membantu para siswa belajar berpikir teoritis dan praktis lewat berbagai mata pelajaran dan kegiatan sekolah.
5.    Membantu para siswa belajar menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman-temannya (orang lain).
6.    Membantu para siswa menyadari dan mampu merumuskan berbagai masalah yang dilihat baik dari pengalaman sendiri maupun dari pelajaran sekolah.
7.    Mengembangkan motivasi untuk belajar lebih lanjut.
    Diskusi secara umum digunakan untuk memperbaiki cara berpikir dan keterampilan komunikasi siswa dan untuk menggalakkan keterlibatan siswa di dalam pelajaran. Diskusi mengandung unsur demokrasi, diskusi juga berguna sekali untuk mengubah perilaku afektif siswa secara konkret, penggunaan diskusi secara terampil memungkinkan pembentukan sikap dalam suasana kelompok. Tujuan diskusi kelas tidak hanya mengasah kemampuan kognitif tingkat dasar melainkan juga kemampuan kognitif tingkat lebih tinggi diantaranya:
1.    Meningkatkan cara berpikir siswa dengan jalan membantu siswa membangkitkan pemahaman isi pelajaran.
2.    Menumbuhkan keterlibatan dan partisipasi siswa.
3.    Membantu siswa mempelajari keterampilan komunikasi dan proses berpikir.
4.     Mencari jalan keluar atau alternatif penyelesaian atas masalah agar siswa mempertimbangkan, mengevaluasi, merancang, menyimpulkan atau merumuskan pokok pikiran atau tindakan.
5.     Membiasakan siswa untuk menghargai pendapat orang lain.
6.    Untuk membiasakan peserta didik yang sulit mendengar pendapat orang lain.

B.    Implementasi Pembelajaran Model Diskusi Kelas
Dalam melaksanakan model diskusi , ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
a.    Tugas Perencanaan
Rencana yang tepat bagi pelajaran diskusi akan meningkatkan kesempatan untuk terjadinya spontanitas dan fleksibilitas di dalam pelajaran.
1)    Mempertimbangkan tujuan
Memutuskan bahwa diskusi cocok untuk model pembelajaran tertentu merupakan langkah pertama dalam merencanakan sebuah diskusi. Beberapa pertanyaan penting untuk dikemukakan yaitu:
·    Apakah topik itu cocok dengan diskusi ?
·     Siapkah topik itu ?
·    Jenis diskusi apa yang dipilih ?
·    Strategi apa yang digunakan ?
2)    Mempertimbangkan Siswa
Dalam merencanakan sebuah diskusi guru harus memerhatikan kemampuan siswanya, antara lain dalam hal pengetahuan awal siswa masing-masing. Selain memilih cara untuk mendorong partisipasi siswa yang heterogen juga merupakan hal yang harus diperhatikan.
3)    Memilih Pendekatan
a)    Pertukaran Resitasi
Salah satu penggunaan resitasi adalah bila guru meminta siswa untuk mendengarkan  atau membaca informasi suatu topik tertentu. Tahapan tanya jawab singkat atau resitasi yang meliputi materi tugas akan bermanfaat untuk memeriksa pemahaman siswa dan memotivasi belajar siswa.
Sesi tanya jawab singkat (diskusi resitasi) tentang bahan bacaan yang telah ditetapkan atau sesi ceramah dapat menjadi sarana bagi guru untuk memeriksa pemahaman siswa.
b)    Diskusi berdasarkan Masalah
Pada pendekatan ini guru mendorong para siswa mengajukan pertanyaan , menggeneralisasi data empiris dan merumuskan teori dan hipotesis untuk menjelaskan situasdi yang masih tanda tanya.
c)    Diskusi berdasarkan Saling berbagi Pendapat
Diskusi ini membantu siswa membentuk dan mengekspresikan pikiran dan pendapat secara bebas. Melalui dialog berbagi pengalaman dan diskusi tentang makna pengalaman, gagasan akan meningkat dan berkembang serta akan muncul pertanyaan-pertanyaan pada pelajaran selanjutnya.
b.    Memilih Strategi Diskusi
a)    Berpikir-Berpasangan- Berbagi (Think-Pair-Share)
Terdapat tiga tahap dalam teknik ini yaitu:
·    Berpikir, guru mengajukan pertanyaan/ permasalahan dan memberi kesempatan berpikir sebelum  siswa menjawab permasalahan yang diajukan.
·    Berpasangan, guru meminta siswa berpasangan untuk menjawab permasalahan.
·    Berbagi, guru meminta siswa secara berpasangan menyampaikan jawaban permasalahan pada yang lain.
Think – pair – share memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu yang lebih banyak untuk berpikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain. Dari.
b)    Kelompok Aktif (Buzz Group)
Diskusi bentuk ini  merupakan diskusi yang tujuannya untuk memperoleh hasil pembahasan yang cepat mengenai masalah tertentu dengan cara membahas dari berbagai  sudut pandang. Dalam kelompok aktif, guru meminta siswa membentuk kelompok-kelompok yang terdiri atas 3-6 siswa untuk mendiskusikan tentang ide siswa pada materi pelajaran. Setiap kelompok menetapkan seorang anggota untuk mendaftar semua gagasan yang muncul dalam kelompok. Selanjutnya guru meminta setiap kelompok aktif menyampaikan hasil diskusi kelompok pada kelas.
c)    Bola Pantai (Beach Ball)
Guru memberi bola kepada salah seorang untuk memulai diskusi dengan pengertian bahwa, hanya siswa yang memegang bola boleh bicara. Siswa lain mengangkat tangan agar mendapat bola jika ingin mendapat giliran berbicara.
c.    Membuat Perencanaan
Guru harus merencanakan pelaksanaan pembelajaran diskusi sebagai berikut:
·    Menetapkan tujuan pembelajaran khusus.
·    Menetapkan garis besar isi pelajaran yang ditargetkan.
·    Memikirkan dengan baik fokus pernyataan, mendeskripsikan konsep-konsep yang membingungkan dan mendaftar pertanyaan-pertanyaan.
·     Pendekatan dan teknik diskusi yang akan digunakan
·    Menggali hubungan konseptual yang penting (analisis tugas, analisis materi, peta konsep)
·    Membuat daftar kata-kata kunci
·    Menggunakan ruang belajar yang tepat, bentuk U digunakan oleh guru untuk keterampilan diskusi yang tidak jalan atau  terdapat permasalahan pengelolaan perilaku siswa dan bentuk lingkaran digunakan guru untuk memperkecil jarak emosional dan fisik di antara peserta diskusi dan memperbanyak kesempatan siswa untuk saling bertukar pendapat secara bebas dengan yang lain.
d.    Tugas Intaraktif
Diskusi akan berhasil dengan baik memerlukan beberapa anggota yang agak berpengalaman dalam keterampilan berkomunikasi dan berinteraksi di antara anggota dari guru dan siswa. Juga diperlukan aturan yang mendukung pertukaran pendapat secara terbuka dan saling memberi perhatian. Sebagai pemimpin diskusi guru seharusnya secara jelas memfokuskan diskusi, mengendalikan siswa tetap pada jalannya diskusi, mendorong partisipasi siswa dengan mendengarkan seluruh gagasan dan pandangan siswa dan membantu siswa memncatat hal-hal penting dalam diskusi.
1.    Menetapkan aturan diskusi
Guru menjelaskan tujuan diskusi dan membantu siswa untuk berpartisipasi. Guru seharusnya mengajukan pertanyaan khusus, memberikan masalah yang sesuai atau menyajikan situasi yang menjadi tanda tanya yang terkait dengan topik. Disamping pengetahuan awal dan pengalaman yang dimiliki siswa sebelumnya juga dapat menunjukkan minat siswa untuk memulai diskusi
2.    Melaksanakan diskusi
Mencatat hal-hal penting dalam diskusi, mendengarkan gagasan siswa dan mengkhiri diskusi. Salah satu cara yang paling umum untuk menutup diskusi adalah guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan gagasan utama dan mengaitkan dengan topik permasalahan.
3.    Mengulas diskusi, Mengulas Jalannya diskusi
Langkah-langkah guna menyelesaikan diskusi:

Tahapan    Kegiatan Guru      
Tahap 1
Menyampaikan tujuan dan mengatur setting    Guru menyampaikan tujuan pembelajaran khusus dan menyiapkan siswa untuk berpartisipasi.      
Tahap 2
Mengarahkan diskusi    Guru mengarahkan fokus diskusi dengan menguraikan aturan- aturan dasar, mengajukan pertanyaan-pertanyaan awal, menyajikan situasi yang tidak dapat segera dijelaskan  atau menyampaikan isu diskusi.      
Tahap 3
Menyelanggarakan Diskusi    Guru memonitor antar aksi, mengajukan pertanyaan, mendengarkan gagasan siswa, menanggapi gagasan, melaksanakan aturan dasar, membuat catatan diskusi, menyampaikan gagasan sendiri.      
Tahapan 4
Mengakhiri diskusi
    Guru menutup diskusi dengan merangkum atau atau mengungkapkan makna diskusi yang telah diselenggarakan kepada siswa.       
Tahapan 5
Melakukan Tanya Jawab    Guru menyuruh para siswa untuk memeriksa proses diskusi dan berpikir siswa.   

4.    Lingkungan  Belajar dan Sistem Pengelolaan
Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan yang menyangkut diskusi sangat penting. Lingkungan untuk pelaksanaan diskusi di tandai dengan proses keterbukaan dan peran aktif siswa. Lingkungan juga memerlukan perhatian untuk menggunakan bentuk ruangan diskusi. Guru dapat mengatur tempat duduk yang bervariasi dan memusatkan perhatian untuk diskusi tertentu, tergantung pada kondisi kelas dan tujuan belajar.
5.    Assesmen dan Evaluasi
Seperti pendekatan-pendekatan pengajaran lainnya ada tugas assesmen dan evaluasi yang harus dilakukan oleh guru setelah diskusi. Salah satunya adalah mempertimbangkan bagaimana sebuah diskusi seharusnya ditindaklanjuti di pelajaran berikutnya dan tugas lainnya adalah memberi nilai. Memberi nilai pada diskusi kelas ada dua cara yang dilakukan oleh guru yaitu:
·    Memberikan poin bonus kepada siswa yang secara konsisten tampak siap diskusi dan yang memberikan kontribusi-kontribusi signifikan, bila ini digunakan, hal ini perlu didiskusikan dengan seluruh kelas dan kesempatan perlu diberikan untuk memungkinkan semua siswa memiliki akses yang sama ke bonus poin yang tersedia.
·    Menggunakan diskusi sebagai batu loncatan untuk tugas menulis reflektif. Nilai dalam hal ini tidak diberikan untuk partisipasi dalam diskusi, tetapi pada kemampuan siswa untuk merefleksikan diskusi itu dan menulis apa makna diskusi baginya.
C.     Kelebihan dan kekurangan Pembelajaran Diskusi
Setiap jenis pembelajaran mempunyai ciri tersendiri dan mempunyai keuntungan dan kelemahan. Demikian juga dengan model pembelajaran diskusi kelas.
Kelebihan Model Diskusi Kelas:
a.    Diskusi melibatkan semua siswa secara langsung dalam KBM.
b.    Setiap siswa dapat menguji tingkat pengetahuan dan penguasaan bahan pelajarannya masing-masing.
c.    Diskusi dapat menumbuhkan dan mengembangkan cara berpikir dan sikap ilmiah.
d.    Dengan mengajukan dan mempertahankan pendapatnya dalam diskusi diharapkan para siswa akan dapat memperoleh kepercayaan akan (kemampuan) diri sendiri.
e.    Diskusi dapat menunjang usaha-usaha pengembangan sikap sosial dan sikap demokratis para siswa.
Kekurangan Model Diskusi Kelas:
a.    Suatu diskusi dapat diramalkan sebelumnya mengenai bagaimana hasilnya sebab tergantung kepada kepemimpinan dan partisipasi anggota-anggotanya.
b.    Suatu diskusi memerlukan ketermpilan-keterampilan tertentu yang belum pernah dipelajari sebelumnya.
c.    Jalannya diskusi dapat dikuasai (didominasi) oleh beberapa siswa yang menonjol.
d.    Tidak semua topik dapat dijadikan pokok diskusi, tetapi hanya hal-hal yang bersifat problematik saja yang dapat didiskusikan.
e.    Diskusi yang mendalam memerlukan waktu yang banyak.
f.    Apabila suasana diskusi hangat dan siswa sudah berani mengemukakan pendapat, maka biasanya sulit untuk membatasi pokok masalah.
g.    Jumlah siswa yang terlalu besar di dalam kelas akan memengaruhi kesempatan setiap siswa untuk mengemukakan pendapatnya.


BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Diskusi kelas sebagai salah satu model pembelajaran yang bisa diterapkan dalam penyelenggaraan pendidikan di madrasah atau sekolah. Sebagai sebuah model pembelajaran, tentu saja model diskusi kelas tidak bisa lepas dari kelebihan dan kekurangan. Tugas setiap setiap pendidik untuk bisa dan secara cerdas menguasai dan menggunakan model-model pembelajaran yang relevan dengan tingkat kesiapan belajar para peserta didiknya.
Model pembelajaran diskusi merupakan cara efektif untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan kreatifitas siswa dalam menerima materi. Ketajaman analisis dan kepandaian menggunakan konsep akan terlihat ketika proses diskusi berlangsung. Siswa dapat berperan aktif dan interaktif dalam pembelajaran untuk menginternalisasikan pengetahuannya dan guru berperan sebagai partner yang memberikan gagasan bagi siswa ketika dialektika diskusi tidak maksimal. Guru membiarkan siswa mengeluarkan pendapat dan akan membantu ketika terjadi kesulitan dalam pemecahan masalah dan proses diskusi.
Diskusi sangat efektif untuk mengembangkan proses berpikir siswa, memupuk mental, mengembangkan sikap diri, dan proses mempertahankan motivasi belajar tingkat tinggi. Di dalam konsep diskusi, setiap elemen memiliki kesempatan yang sama untuk berpendapat dan memberikan komentar atas apa yang didiskusikan.


DAFTAR PUSTAKA
Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar, Bandung: CV Pustaka Setia, 1997.
Arend, Richard. Learning To Each, Newyork: Mc. Graw Hill Companies, 2007.
Hendrikus, P. Dori Wuwur, Retorika : Terampil Berpidato, Berdiskusi, Berargumentasi, Bernegosiasi,Yogyakarta : Kanisius, 1991.
Mulyono, Strategi Pembelajaran Menuju Efektifitas Di Abad Global, Tt, UIN-Maliki Press, 2011.
Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 1990.
Sabri, Ahmad. Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching, Ciputat: Quantum Teaching, 2005.
Sagala, Syaiful ,Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar, Bandung: Alfaveta, 2009.
Setyawan, Sigit, Nyalakan Kelasmu : 20 Metode Mengajar dan Aplikasinya, Jakarta : PT. Grasindo, 2013.
Soetomo, Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar, Surabaya: Usaha Nasional, 1993.
Sumantri Mohammad Syarif, Strategi Pembelajaran Teori dan Praktek Di Tingkat Pendidikan Dasar, Jakarta: Rajawali Pers, 2015.
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-progresif, Jakarta: kencana prenada media group,2010.
W. James Popham dan Eva L. Baker, Teknik Mengajar Secara Sistematis, diterj. Amirul Hadi dkk, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003.